Rahasia sedekah sudah dijelaskan oleh nabi Muhammad saw, sebagaimana
yang dijelaskan oleh Allah dalam al-Quran, jauh sebelum
literatur-literatur lainnya memberikan keterangan mengenai rahasia yang
terkandung di balik praktik sedekah.
Adalah ustadz Yusuf Mansyur
yang memopulerkan bahasan mengenai rahasia sedekah ini dalam
ceramah-ceramah yang diberikannya kepada masyarakat, bahkan buku
mengenai rahasia sedekah sudah bisa kita temukan di toko buku.
Lantas, apa saja rahasia yang terkandung di balik sedekah ini? Beberapa di antaranya adalah:
A. Rahasia sedekah: Kematian
Rasulullah saw bersabda:
“Sedekah dapat menolak kematian yang buruk.” (Al-Wasail 6: 255, hadis ke 2)
Imam Ja’far Ash-Shadiq (sa) berkata:
Pada
suatu hari orang yahudi lewat dekat Rasulullah saw, lalu ia
mengucapkan: Assam ‘alayka (kematian atasmu). Rasulullah saw menjawab:
‘Alayka (atasmu). Lalu para sahabatnya berkata: Ia mengucapkan salam
atasmu dengan ucapan kematian, ia berkata: kematian atasmu. Nabi saw
bersabda: “Demikian juga jawabanku.” Kemudian Rasulullah saw bersabda:
“Sesungguhnya orang yahudi ini tengkuknya akan digigit oleh binatang
yang hitam (ular dan kalajengking) dan mematikannya. Kemudian orang
yahudi itu pergi mencari kayu bakar lalu ia membawa kayu bakar yang
banyak. Rasulullah saw belum meninggalkan tempat itu yahudi tersebut
lewat lagi (belum mati). Maka Rasulullah saw bersabda kepadanya:
“Letakkan kayu bakarmu.” Ternyata di dalam kayu bakar itu ada binatang
hitam seperti yang dinyatakan oleh beliau. Kemudian Rasulullah saw
bersabda: “Wahai yahudi, amal apa yang kamu lakukan? Ia menjawab: Aku
tidak punya kerjaan kecuali mencari kayu bakar seperti yang aku bawa
ini, dan aku membawa dua potong roti, lalu aku makan yang satu potong
dan satu potong yang lain aku sedekahkan pada orang miskin. Maka
Rasulullah saw bersabda: “Dengan sedekah itu Allah menyelamatkan dia.”
Selanjutnya beliau bersabda: “Sedekah dapat menyelamatkan manusia dari
kematian yang buruk.” (Al-Wasail 6: 267, hadis ke 4)
B. Rahasia sedekah: Bertambahnya rezeki
Rasulullah saw bersabda:
“Bersedekahlah
kalian, karena sesungguhnya sedekah dapat menambah harta yang banyak.
Maka bersedekahlah kalian, niscaya Allah menyayangi kalian.” (Al-Wasail
6: 255, hadis ke 11)
C. Rahasia sedekah: Bahaya
Rasulullah saw bersabda:
“Mulai
pagi harimu dengan sedekah, barangsiapa yang memulai pagi harinya
dengan sedekah ia tidak akan terkena sasaran bala.” (Al-Wasail 6: 257,
hadis ke 15)
D. Rahasia sedekah: Keimanan
Imam Ja’far Ash-Shadiq (sa) berkata:
“Tidaklah
sempurna keimanan seorang hamba sehingga ia melakukan empat hal:
Berakhlak baik, bersikap dermawan, menahan karunia dari ucapan, dan
mengeluarkan karunia dari hartanya.” (Al-Wasail 6: 259, hadis ke 21)
E. Rahasia sedekah: Perang Uhud
Imam Ja’far Ash-Shadiq berkata bahwa Allah Swt berfirman:
“Segala
sesuatu Aku wakilkan pada orang selain-Ku untuk menggenggamnya kecuali
sedekah, Aku sendiri dengan tangan-Ku yang mengambilnya, sekalipun
seseorang bersedekah dengan satu biji korma atau sebelah biji korma.
Kemudian Aku menambahkan baginya sebagaimana ia menambahkan sebelum
meninggalkan. Kemudian saat ia datang pada hari kiamat ia mendapat
pahala seperti pahala perang Uhud bahkan lebih besar dari pahala perang
Uhud.” (Al-Wasail 6: 265, hadis ke 7)
F. Rahasia sedekah: Penjagaan Allah Sepanjang Hari
Imam Ja’far Ash-Shadiq (sa) berkata:
“Awali
pagi harimu dengan sedekah, gemarlah bersedekah. Tidak ada seorang
mukmin pun yang bersedekah karena mengharapkan apa yang ada di sisi
Allah untuk menolak keburukan yang akan turun dari langi ke bumi pada
hari itu, kecuali Allah menjaganya dari keburukan apa yang akan turun
dari langit ke bumi pada hari itu.” (Al-Wasail 6: 267, hadis ke 3)
G. Rahasia sedekah: Merubah Takdir
Rasulullah saw berwasiat kepada Ali bin Abi Thalib (sa):
“Wahai
Ali, sedekah itu dapat menolak takdir mubram (yang telah ditetapkan).
Wahai Ali, silaturahim dapat menambah umur. Wahai Ali, tidak ada sedekah
ketika keluarga dekatnya membutuhkan. Wahai Ali, tidak ada kebaikan
dalam ucapan kecuali disertai perbuatan, dan tidak ada sedekah kecuali
dengan niat (karena Allah).” (Al-Wasail 6: 267, hadis ke 4)
H. Rahasia sedekah: Penolak Hari Nahas
Imam Ja’far Ash-Shadiq (sa) berkata:
“Antara
aku dan seseorang punya perhitungan tentang bumi. Orang itu ahli nujum,
ia sengaja keluar rumah untuk suatu urusan pada saat “Al-Su’ud” (bulan
berada di manazil Al-Su’ud), dan aku juga keluar rumah pada hari nahas.
Lalu kami menghitungnya, lalu keluarlah untukku dua perhitungan yang
baik. Kemudian orang itu memukulkan tangan kanannya pada tangan kirinya,
kemudian berkata: Aku belum pernah sama sekali melihat hari seperti
hari ini. Aku berkata: Celaka hari yang lain dan hari apa itu? Ia
berkata: Aku ahli nujum, aku datang padamu pada hari nahas, aku keluar
rumah pada saat Al-Su’ud, kemudian kami menghitung, lalu keluarlah untuk
Anda dua perhitungan yang baik. Ketika itulah aku berkata kepadanya:
“Tidakkah aku pernah menyampaikan suatu hadis yang disampaikan padaku
oleh ayahku? Yaitu Rasulullah saw bersabda: “Barangsiapa yang ingin
diselamatkan oleh Allah dari hari nahas, maka hendak mengawali harinya
dengan sedekah, niscaya Allah menyelamatkannya dari hari nahas itu.
Barangsiapa yang ingin diselamatkan oleh Allah dari malam nahas, maka
hendaknya mengawali malamnya dengan sedekah niscaya ia diselamatkan dari
malam nahas itu. Kemudian aku berkata: “Sesungguhnya aku mengawali
keluar rumah dengan sedekah; ini lebih baik bagimu daripada ilmu nujum.”
(Al-Wasail 6: 273, hadis ke 1)
I. Rahasia sedakah: Sedekah di Malam hari dan Siang hari
Imam Ja’far Ash-Shadiq (sa) berkata:
“Sesungguhnya
sedekah di malam hari dapat memadamkan murka Allah, menghapus dosa
besar dan mempermudah perhitungan amal; sedekah di siang hari dapat
menumbuhkan harta dan menambah umur.” (Al-Wasail 6: 273, hadis ke 2)
J. Rahasia sedekah: Ali bin Abi Thalib
Imam Ali bin Abi Thalib (sa):
“Sesungguhnya
tawassul yang paling utama adalah bertawasul dengan keimanan kepada
Allah …, dengan silaturrahim karena hal ini dapat menumbuhkan harta dan
menambah umur; dengan sedekah yang tersembunyi karena hal ini dapat
menghapuskan kesalahan dan memadamkan murkan Allah Azza wa Jalla; dengan
amal-amal yang ma’ruf (kebajikan) karena hal ini dapat menolak kematian
yang buruk dan menjaga dari pertarungan kehinaan…” (Al-Wasail 6: 275,
hadis ke 4)
K. Sedekah itu mensucikan jiwa
Allah Ta`ala berfirman:
”Ambillah
zakat dari sebagian harta mereka , dengan zakat itu kamu membersihkan
dan mensucikan mereka , dan mendo`alah untuk mereka. Sesungguhnya dia
kamu itu ( menjadi ) ketentraman jiwa bagi mereka. Dan Allah (menjadi)
ketentraman jiwa bagi mereka, Dan Allah Mendengar lagi Maha Mengetahui.“
(QS At-Taubah: 103)
Matematika Dasar Sedekah
Menurut
Yusuf Mansyur, seorang ustadz yang memopulerkan bahasan rahasia sedekah,
sedekah mempunyai perhitungan matematisnya sendiri, seperti yang
diuraikan sebagai berikut:
Apa yang kita lihat dari matematika di bawah ini?
10 – 1 = 19
Ya,
di sana kita akan melihat keganjilan hitungan matematis. Sebuah
pengurangan yang justru menghasilkan penambahan. Kenapa begitu? Kenapa
bukan 10-1 = 9? Inilah matematika sedekah, kita memberi dari apa yang
kita punya, dan Allah akan mengembalikan lebih banyak lagi. Matematika
sedekah di atas, diambil dari Quran Surat Al-An`am ayat 160, Allah
menjanjikan balasan 10X lipat bagi mereka yang mau berbuat baik
(sedekah), bahkan dalam Quran Surat Al-Baqarah ayat 261, Allah
menjanjikan hingga 700X lipat.
Sebelumnya, kita sudah mengetahui, bahwa:
10 - 1 = 19
Maka, ketemulah ilustrasi matematika ini:
10 - 2= 28
10 - 3= 37
10 - 4= 46
10 - 5= 55
10 - 6= 64
10 - 7= 73
10 - 8= 82
10 - 9= 91
10 - 10= 100
Sedekah 2.5 % Tidaklah Cukup
Dengan infak 2,5% yang biasa kita berikan, jika kita telaah lebih jauh ternyata tidak mempunyai pengaruh yang signifikan.
Misalnya,
seorang karyawan yang mempunya gaji 1 juta. Dia punya pengeluaran rutin
2 juta, kemudian dia bersedekah 2,5% dari penghasilan yang 1 juta itu.
Maka perhitungannya adalah: 2,5% dari 1.000.000 = 25.000. Maka yang
tercatat: 1.000.000 – 25.000 = 975.000.
Angka 975.000 bukan hasil
akhir. Allah akan mengembalikan lagi yang 2,5% yang dikeluarkan
sebanyak sepuluh kali lipat, atau sebesar 250.000. Sehingga dia bakal
mendapatkan rizki min haitsu laa yahtasib (rizki tak terduga) sebesar:
975.000 + 250.000 = 1.225.000.
Jadi, “hasil akhir” dari
perhitungan sedekah 2,5% dari 1 juta, hanya Rp. 1.225.000,-. Angka ini
masih jauh dari pengeluaran dia yang sebesar 2 juta. Jadi, jika dia
sedekahnya 2,5%, dia harus mencari sisa Rp. 775.000 untuk menutupi
kebutuhannya.
Maka sedekah 2,5% itu tidaklah cukup. Hasilnya akan lebih besar bila sedekah 10%.
perhitungannya adalah: 10% dari 1.000.000 = 100.000. Maka yang tercatat : 1.000.000 – 100.000 = 900.000.
Ingatlah,
angka 900.000 itu bukanlah hasil akhir. Allah akan mengembalikan lagi
yang 2,5% yang dia keluarkan sebanyak sepuluh kali lipat, atau
dikembalikan sebesar 1.000.000. Sehingga dia bakal mendapatkan rizki min
haitsu laa yahtasib (rizki tak terduga) sebesar: 900.000 + 1.000.000 =
1.900.000.
Dengan perhitungan ini, dia berhasil mengubah
penghasilannya mendekati angka pengeluaran yang 2 juta. Dia hanya butuh
100 ribu tambahan lagi, yang barangkali Allah yang akan menggenapkannya.
Katakanlah
kepada hamba-hambaku yang telah beriman: Hendaklah mereka mendirikan
Shalat, menafkahkan sebagian rezeki yang Kami berikan kepada mereka
secara sembunyi-sembunyi ataupun terang-teranganan sebelum datang hari (
kiamat ) yang pada hari itu tidak ada jual beli dan persahabatan. (QS
Ibrahim: 31)
Hadits Sedekah1.
Dari Abu Hurairah r.a., Nabi saw. bersabda, “Seandainya aku mempunyai
emas sebesar gunung Uhud, sungguh aku gembira apabila ia tidak
tertinggal di sisiku selama tiga malam, kecuali aku sediakan untuk
membayar utang.” (Bukhari, Misykât)
2. Abu Hurairah r.a. berkata
bahwa Nabi saw. bersabda, “Ketika seorang hamba berada pada waktu pagi,
dua malaikat akan turun kepadanya, lalu salah satu berkata, ‘Ya Allah,
berilah pahala kepada orang yang menginfakkan hartanya.’ Kemudian
malaikat yang satu berkata, ‘Ya Allah, binasakanlah orang-orang yang
bakhil.” (Muttafaq ‘Alaih- Misykât).
3. Dari Abu Umamah r.a.,
Nabi saw. bersabda, “Wahai anak Adam, seandainya engkau berikan
kelebihan dari hartamu, yang demikian itu lebih baik bagimu. Dan
seandainya engkau kikir, yang demikian itu buruk bagimu. Menyimpan
sekadar untuk keperluan tidaklah dicela, dan dahulukanlah orang yang
menjadi tanggung jawabmu.” (Muslim, Misykât).
4. Dari Uqbah bin
Harits r.a., ia berkata, “Saya pernah shalat Ashar di belakang Nabi
saw., di Madinah Munawwarah. Setelah salam, beliau berdiri dan berjalan
dengan cepat melewati bahu orang-orang, kemudian beliau masuk ke kamar
salah seorang istri beliau, sehingga orang-orang terkejut melihat
perilaku beliau saw. Ketika Rasulullah saw. keluar, beliau merasakan
bahwa orang-orang merasa heran atas perilakunya, lalu beliau bersabda,
‘Aku teringat sekeping emas yang tertinggal di rumahku. Aku tidak suka
kalau ajalku tiba nanti, emas tersebut masih ada padaku sehingga menjadi
penghalang bagiku ketika aku ditanya pada hari Hisab nanti. Oleh karena
itu, aku memerintahkan agar emas itu segera dibagi-bagikan.”
(Bukhari-Misykât).
5. Dari Abu Hurairah r.a., ia berkata bahwa
seseorang telah bertanya kepada Nabi saw., “Ya Rasulullah, sedekah yang
bagaimanakah yang paling besar pahalanya?” Rasulullah saw. bersabda,
“Bersedekah pada waktu sehat, takut miskin, dan sedang berangan-angan
menjadi orang yang kaya. Janganlah kamu memperlambatnya sehingga maut
tiba, lalu kamu berkata, ‘Harta untuk Si Fulan sekian, dan untuk Si
Fulan sekian, padahal harta itu telah menjadi milik Si Fulan (ahli
waris).” (H.r. Bukhari, Muslim-Misykât).
6. Abu Hurairah r.a.
berkata bahwa sesungguhnya Rasulullah saw. bersabda, “Seorang laki-laki
dari Bani Israil telah berkata, ‘Saya akan bersedekah.’ Maka pada malam
hari ia keluar untuk bersedekah. Dan ia a telah menyedekahkannya (tanpa
sepengetahuannya) ke tangan seorang pencuri. Pada keesokan harinya,
orang-orang membicarakan peristiwa itu, yakni ada seseorang yang
menyedekahkan hartanya kepada seorang pencuri. Maka orang yang
bersedekah itu berkata, “Ya Allah, segala puji bagi-Mu, sedekah saya
telah jatuh ke tangan seorang pencuri.” Kemudian ia berkeinginan untuk
bersedekah sekali lagi. Kemudian ia bersedekah secara diam-diam, dan
ternyata sedekahnya jatuh ke tangan seorang wanita (ia beranggapan bahwa
seorang wanita tidaklah mungkin menjadi seorang pencuri). Pada keesokan
paginya, orang-orang kembali membicarakan peristiwa semalam, bahwa ada
seseorang yang bersedekah kepada seorang pelacur. Orang yang memberi
sedekah tersebut berkata, “Ya Allah, segala puji bagi-Mu, sedekah saya
telah sampai ke tangan seorang pezina.” Pada malam ketiga, ia keluar
untuk bersedekah secara diam-diam, akan tetapi sedekahnya sampai ke
tangan orang kaya. Pada keesokan paginya, orang-orang berkata bahwa
seseorang telah bersedekah kepada seorang kaya. Orang yang telah memberi
sedekah itu berkata, “Ya Allah, bagi-Mu segala puji. Sedekah saya telah
sampai kepada seorang pencuri, pezina, dan orang kaya.” Pada malam
berikutnya, ia bermimpi bahwa sedekahnya telah dikabulkan oleh Allah
swt. Dalam mimpinya, ia telah diberitahu bahwa wanita yang menerima
sedekahnya tersebut adalah seorang pelacur, dan ia melakukan perbuatan
yang keji karena kemiskinannya. Akan tetapi, setelah menerima sedekah
tersebut, ia berhenti dari perbuatan dosanya. Orang yang kedua adalah
orang yang mencuri karena kemiskinannya. Setelah menerima sedekah
tersebut, pencuri tersebut berhenti dari perbuatan dosanya. Orang yang
ketiga adalah orang yang kaya, tetapi ia tidak pernah bersedekah. Dengan
menerima sedekah tersebut, ia telah mendapat pelajaran dan telah timbul
perasaan di dalam hatinya bahwa dirinya lebih kaya daripada orang yang
memberikan sedekah tersebut. Ia berniat ingin memberikan sedekah lebih
banyak dari sedekah yang baru saja ia terima. Kemudian, orang kaya itu
mendapat taufik untuk bersedekah.” (Kanzul-‘Ummâl)
7. Dari Ali
r.a., Rasulullah saw. bersabda, “Segeralah bersedekah, sesungguhnya
musibah tidak dapat melintasi sedekah.” (Razin, Misykât)
8. Dari
Abu Hurairah r.a., Rasulullah saw. bersabda, “Sedekah itu tidak akan
mengurangi harta. Allah swt. akan menambah kemuliaan kepada hamba-Nya
yang pemaaf. Dan bagi hamba yang tawadhu’ karena Allah swt., Allah swt.
akan mengangkat (derajatnya). (Muslim; Misykât)
9. Abu Hurairah
r.a. berkata bahwa Nabi saw. bersabda, “Ketika seseorang sedang berada
di padang pasir, tiba-tiba ia mendengar suara dari awan, ‘Curahkanlah ke
kebun Fulan.’ Maka bergeraklah awan itu, kemudian turun sebagai hujan
di suatu tanah yang keras berbatuan. Lalu, salah satu tumpukan dari
tumpukan bebatuan tersebut menampung seluruh air yang baru saja turun,
sehingga air mengalir ke suatu arah. Ternyata, air itu mengalir di
sebuah tempat di mana seorang laki-laki berdiri di tengah kebun miliknya
sedang meratakan air dengan cangkulnya. Lalu orang tersebut bertanya
kepada pemilik kebun, “Wahai hamba Allah, siapakah namamu?” Ia
menyebutkan sebuah nama yang pernah didengar oleh orang yang bertanya
tersebut dari balik mendung. Kemudian pemilik kebun itu balik bertanya
kepadanya, “Mengapa engkau menanyakan nama saya?” Orang itu berkata,
“Saya telah mendengar suara dari balik awan, ‘Siramilah tanah Si Fulan,’
dan saya mendengar namamu disebut. Apakah sebenarnya amalanmu (sehingga
mencapai derajat seperti itu)?” Pemilik kebun itu berkata, “Karena
engkau telah menceritakannya, saya pun terpaksa menerangkan bahwa dari
hasil (kebun ini), sepertiga bagian langsung saya sedekahkan di jalan
Allah swt., sepertiga bagian lainnya saya gunakan untuk keperluan saya
dan keluarga saya, dan sepertiga bagian lainnya saya pergunakan untuk
keperluan kebun ini.” (Muslim, Misykât).
10. Dari Abu Hurairah
r.a., Nabi saw. bersabda, “Seorang wanita pezina telah diampuni dosanya
karena ketika dalam perjalanan, ia melewati seekor anjing yang
menengadahkan kepalanya sambil menjulurkan lidahnya hampir mati karena
kehausan. Maka, wanita tersebut menanggalkan sepatu kulitnya, lalu
mengikatkannya dengan kain kudungnya, kemudian anjing tersebut diberi
minum olehnya. Maka dengan perbuatannya tersebut, ia telah diampuni
dosanya.” Seseorang bertanya, “Adakah pahala bagi kita dengan berbuat
baik kepada binatang?” Beliau saw. menjawab, “Berbuat baik kepada setiap
yang mempunyai hati (nyawa) terdapat pahala.” (Muttafaq ‘alaih; Misykâ )
Naik haji dengan sedekahWajib
hukumnya bagi saya tiap kali bertemu dengan orang sukses selalu
bertanya mengapa dia bisa sukses seperti itu. Kebetulan pekerjaan saya
sebagai seorang programer mempunyai kesempatan besar untuk bisa bertemu
dengan orang-orang sukses dibidang bisnis. Membahas masalah niat, saya
teringat apa yang dikatakan seorang klien saya beberapa waktu yang lalu.
Kehidupan dia kini cukup berada. Pekerjaan dan bisnis sampingan yang
dia jalankan terbilang sangat gemilang. Penghasilan dari bisnis
sampingan dia bisa mencapai lebih dari 5 kali lipat gaji dia sekarang. .
Dia
mengakui kesuksesannya selama ini sebenarnya diawali pada niat. Semua
berawal saat dia menghadiri sebuah pengajian beberapa tahun yang lalu.
Dalam pengajian itu, sang ustad mengungkapkan bahwa Allah pasti akan
memberi jalan jika kita mempunyai niat yang kuat. Tapi niat yang kuat
saja tidak cukup, harus ada aksi yang jelas. Apa yang diungkapkan sang
ustad ini langsung dipraktekkan keesokan harinya. Keinginan dia yang
belum terlaksana waktu itu adalah naik haji. Maklum, dengan gaji dia
yang pas-pasan saat itu, naik haji memang agak jauh dari kenyataan. Tapi
dia berkeyakinan jika mempunyai niat yang kuat disertai aksi yang jelas
pasti Allah akan memberi jalan. Aksi pertama yang dia lakukan adalah
membuka tabungan haji di sebuah bank.
Ada semacam keajaiban
setelah dia membuka rekening tabungan haji di bank tersebut. Rejeki
sepertinya tidak henti-hentinya datang, sampai tak terasa dalam waktu
beberapa bulan saja tabungan dia cukup untuk pergi haji bersama
istrinya. Bukan hanya itu, rejeki yang tak kunjung berhenti terus
berlanjut setelah dia naik haji. Dia mendapat jabatan bagus di kantornya
dan bisnis sampingan yang dia jalankan juga terus berkembang pesat
sampai kini. Saat ini dia sudah 2 kali naik haji bersama istrinya.
Setelah
saya tanya mengapa kok rejeki dia bisa terus berlimpah seperti itu
ternyata jawabannya ada pada sedekah. Setiap kali dia mendapat gaji dan
keuntungan bersih dari bisnis sampingan, langsung dia potong 2,5% tiap
bulannya untuk disedekahkan. Dia tetap berkomitmen bahwa 2,5% dari
penghasilan bersih tiap bulan tersebut bukanlah hak dia, jadi harus
disedekahkan. Dia juga sangat yakin 2,5% dari penghasilan yang dia
sedekahkan itu akan sangat berarti saat dia di akherat nanti, karena
Allah sudah jelas-jelas menjanjikan pahala yang berlimpah bagi siapa
saja yang gemar sedekah.
Ternyata rejeki berlimpah yang diterima
klien saya selama ini berawal dari niat yang kuat, aksi yang jelas untuk
mewujudkan niat tersebut, dan kegemaran bersedekah. Semoga kisah klien
saya di atas bisa bermanfaat bagi kita semua.
Sukses untuk anda…..
Kisah nyata sedekahCerita
ini dialami oleh guru agama saya. Saya ingat betul dia menceritakan
kisah ini saat dia mengajar mata pelajaran agama Islam di kelas saya
(SMA) sekitar tahun 1992. Cerita ini tidak pernah saya lupakan karena
inilah cerita pertama yang saya dengar tentang balasan nyata sebuah
sedekah.
Guru agama saya sewaktu masih kuliah, hidupnya sangat
pas-pasan. Untuk makan harus dicukup-cukupkan agar dia bisa membayar
biaya kuliah dan tempat kos. Maklum, orang tuanya di kampung adalah
keluarga yang sederhana. Karena tekad yang kuatlah guru agama saya
berani meneruskan kuliah agar dia bisa menjadi seorang sarjana agama
Islam waktu itu. Modal utama dia hanyalah keyakinan bahwa Allah pasti
akan menolong umatnya yang memang berniat ingin berjuang di jalan Islam.
Memang benar, keyakinan itu terjawab. Banyak sekali rejeki dari
mengajar ngaji panggilan yang dia dapatkan selama kuliah. Bayaran yang
dia terima besar karena rata-rata yang memakai jasa dia adalah
orang-orang kaya.
Suatu ketika, guru saya kehabisan uang. Di saku
celananya hanya tersisa uang untuk sekali makan dan naik kendaraan ke
salah satu muridnya. Hari itu adalah jadwal mengajar di salah satu anak
pejabat dan biasanya tanggal itu waktunya orang tuanya ngasih amplop
untuk jasa mengajar dia. Setibanya di rumah muridnya, dia hanya ditemui
pembantu sang pejabat yang mengatakan semua keluarga ke luar kota karena
ada sesuatu yang sangat penting.
Dengan lemas, guru saya pulang
dengan jalan kaki. Karena jika dia naik kendaraan, berarti dia tidak
makan nanti sorenya, karena uang yang ada di saku cuma cukup untuk
sekali makan. Saat berjalan pulang, dia bertemu dengan nenek tua yang
kelaparan. Dia kasihan. Dengan mengucap bismillah dia memberikan uang
terakhirnya untuk nenek tersebut. Dia berkeyakinan, Allah pasti akan
menolong dia saat dia lapar nanti, karena saat ini yang paling
membutuhkan adalah nenek tua tersebut.
Rupanya harapan guru saya
langsung dikabulkan Allah. Baru beberapa langkah, dia menemukan uang di
pinggir jalan yang cukup untuk dia makan selama satu bulan. Beberapa
hari kemudian, pak pejabat menitip kabar pada kawannya untuk segera ke
rumah mengambil honor mengajar ngaji. Pak pejabat memberikan 3 kali
lipat honor ngaji guru saya karena dia baru mendapatkan rejeki. Bukan
hanya itu, pak pejabat itu juga memberi referensi untuk mengajar ngaji
di tempat temannya yang lain.
Dengan berlinang air mata, guru
saya berucap itulah balasan sedekah yang diberikan oleh Allah pada
umatnya yang benar-benar ikhlas. Dia mengingatkan pada kami sekelas
untuk senantiasa bersedekah, karena bisa membersihkan harta dan selalu
dekat denganNya. Hikmah dari kejadian ini adalah, dengan keiklasan dan
keyakinan akan pertolonganNya, serta doa yang tiada henti, pasti rejeki
akan mengalir seperti air dalam kehidupan kita. Terakhir saya dengar
sekitar tahun 1996, guru agama saya tersebut sedang mencari tanah untuk
mendirikan pondok pesantren.
Semoga guru saya tetap sehat
walafiat dan selalu diberi rahmat dan hidayahNya. Saya tidak tahu di
mana sekarang dia mengajar, sebab saat saya kekas 3 SMA dia pindah
mengajar ke kota lain.
Sedekah untuk bisnis kitaSedekah
menyimpan misteri tersendiri bagi umat manusia. Sedekah bisa
mendatangkan berkah, bahkan terkadang berkah itu nyata. Banyak yang
sudah membuktikan hal ini. Silahkan aja anda “googling”. Lalu bagaimana
jika bisnis kita dihiasi juga dengan sedekah? Hemmm pasti akan indah.
Berkah pasti akan selalu tercurahkan pada bisnis anda.
Saya ingat
betul, pada tahun 2000 an saya pernah kecewa dengan yang namanya
sedekah. Bayangkan, saya punya sebuah bisnis yang menghasilkan banyak
profit waktu itu. Setelah membaca sebuah buku yang membahas tentang
sedekah, saya pun mempraktekkan. Eh, hasilnya tidak seperti yang
dituliskan di buku. Malahan usaha saya semakin merosot dan akhirnya
tutup. Tapi akhirnya saya sadar, saya tidak mau berburuk sangka kepada
Allah. Saya tetap berfikir positif menghadapi masalah ini, dan akhirnya
semua saya kembalikan pada Allah. Mungkin saya kurang iklas, atau memang
Allah punya rencana lain yang lebih bagus bagi bisnis saya ke depan.
Akhirnya
sedekah benar-benar terbukti bagi saya. Saat saya menjual inventaris
kantor, saya banyak bertemu dengan orang-orang yang memberi inspirasi
bisnis baru bagi saya. Beberapa orang bekerjasama dengan saya dan
beberapa yang lain saya ambil sebagai ide bisnis usaha saya yang lain.
Dari
pengalaman saya di atas, akhirnya bisa saya ambil kesimpulan; iklas dan
tetap berfikir positif adalah kunci utama bersedekah untuk kelancaran
bisnis kita. Jika efek sedekah tidak kita rasakan sekaligus seperti
cerita kebanyakan orang, pasti akan kita rasakan saat kita benar-benar
membutuhkannya. Ingat Allah sudah berjanji untuk melipat gandakan setiap
sedekah yang telah kita keluarkan, sekecil apapun itu.