Rabu, 11 Desember 2013

Hukum menahan ketut pada saat sholat

1). Seseorang yang akan menunaikan sholat disunnahkan untuk mengosongkan diri dari hadast sebelummenunaikan sholat. Namun jika ia terpaksa menahan kentut ketika dalam keadaan sholat maka hukumnya termasuk makruh tanzih.
2). Seseorang tidak boleh membatalkan sholat fardhu,lantaran tidak mau menahan hadast yang baru terjadi ketika sholat.
Dasar Pengambilan:
وكره: صلاة بمدافعة حدث, كبول وغائط وريح للخبر الآتى ولأنه تخل بالخشوع بل قال جمع إن ذهب بها بطلت. وتسن له تفريغ نفسه قبل الصلاة وإن فاتت الجماعة وليس له خروج من الفرض إذا طرأت له فيه ولا تأخيره إذا ضاق وقته والعبرة في كراهية ذلك بوجودها عند التحرم. وينبغي أن يلحق بهم الو عرضت له قبل التحرم فزالت وعلم من عادته أنها تعود إليه في الصلاة. (1)*
Dimakruhkan melakukan sholat dengan keadaan menahan hadast,seperti halnya kencing, berak atau kentut,berdasarkan hadust yang akan datang nanti. Karena yang demikian dapat menghilangkan kekhusyuan sholat. Bahkan segolongan ulama' mengatakan jika menahan tersebut menghilangkan kekhusyuan sholat,maka batallah sholatnya.
Dan disunnahkan mengosongkan diri dari hadst sebelum menunaikan sholat,sekalipun akan tertinggal jamaah. Namun, ia tidak boleh membatalkan sholat fardhu lantaran tidak mau menahan hadast yang baru terjadi ketika sholat,dan tidak boleh menunda nunda sholat fardhu manakala waktunya sempit.
Letak kemakruhan mengekang hadast tersebut, adalah terjadinya hal itu ketika takbiratil ihram. Sebaliknya masalah penahanan yang terjadi padanya sebelum takbiratul ihram,lalu hilang dan ia mengetahui bahwa berdasarkan kebiasaannya,hal itu terjadi lagi ketika sholatnya,adalah dapat di ilhaq disamakan dengan masalah penahanan hadast yang terjadi ketika takbiratul ihram,yaitu sama makruh hukumnya.
Dasar Pengambilan:
عن عائشة رضي الله عنها قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: لا صلاة بحضرة الطعام ولا هو يدافعه الأخبثان أي البول والغائط. (2)*
Dari 'Aisyah Rasulullah Saw bersabda: Tidaklah ( lengkap ) sholat seseorang ketika sudah dihidangkan makanan dan ketika dia dalam keadaan menahan berak atau kencing .
Referensi Kitab:
(1)*. Kitab Fathul Mu'in Syarah I'aanah Juz 1. Hal 226.
(2)*. HR. Imam Muslim Dari 'Aisyah.
Editor: Guslik An_Namiri
diambil dari : http://taklimtanahmerah.com/konsultasi-agama/sholat/64-110-hukum-menahan-kentut-dalam-keadaan-sholat

Tidak ada komentar:

Posting Komentar